Posted by : Cyberford Selasa, 07 Juni 2011

FABEL BURUNG BALAM DAN SEMUT MERAH

Ada seekor burung balam yang tinggal ditengah hutan. Setiap hari ia terbang mengelilingi hutan rimba itu. Burung balam itu mencari makanan atau kadang-kadang hanya ingin melihat-lihat saja. Sesekali ia bertengger diatas dahan sambil bernyanyi. Suaranya sangat merdu.
Pada suatu hari ketika ia sedang minum di tepi danau, terdengar suara meminta tolong.
“Tolong….tolong…..aku tenggelam!”
Burung balam mencoba mencari-cari arah suara itu. Rupanya suara itu datang dari tengah danau yang dalam. Ia segera terbang dan melayang rendah di permukaan air danau.
“Tolong….tolong….!” teriak semut itu.
“Tunggulah sebentar wahai semut, kau akan segera kutolong,” kata burung balam segera terbang ketepi. Ia memetik sehelai daun, lalu membawanya ke tengah danau. Ia terbang rendah sambil menggeleparkan sayapnya didekat semut lalu meletakkan daun itu kepermukaan air. Katanya, “Naiklah keatas daun itu, wahai semut!”
Semut berusaha naik ke atas daun melawan gelombang danau yang besar. Berkat ketabahannya ia dapat mencapai permukaan daun itu dan berpegang kuat-kuat disana.
“Nah, berpeganglah kuat-kuat. Engkau akan kuterbangkan ke darat,” kata burung balam itu lagi.
Semut merah itu pun berpegang pada urat-urat daun.
Burung balam mematuk tangkai daun itu dan membawanya terbang ke darat. Ia hinggap disebuah pohon kayu dan meletakkan daun itu pada dahannya.
Semut merah merayap dari daun itu mendekati burung balam.
“Terima kasih atas kebaikanmu, burung balam. Engkau telah menyelamatkan nyawaku,” katanya.
“Jangan berkata demikian, itu hanya suatu perbuatan yang tidak berarti.”
“Betapa pun aku tak bisa melupakan jasamu, burung balam,” kata semut merah pula.
“Bersyukurlah kepada tuhan dan hati-hatilah. Jangan sampai kau terjatuh lagi ke dalam air. Selamat tinggal!” ujar burung balam.
“Selamat jalan. Satu saat aku berharap dapat membalas budimu.”
Mereka pun berpisah. Burung balam terbang lagi mengelilingi hutang belantara dan sang semut merayap-rayap di dahan kayu mencari makan.
Tak berapa lama kemudian, ketika sang semut sedang mencari makan di dahan kayu, ia melihat ada seorang pemburu dibawah pohon itu. Pemburu itu membawa sepucuk senapan yang telah siap dibidikkan ke atas pohon.
“Ia pasti akan menembak burung,” pikir sang semut, ”mungkin sahabatku yang akan dibunuhnya.” Ia melihat ke atas pohon. Benar saja, di pucuk pohon tampak burung balam, sahabatnya, sedang bertengger. Akan berteriak tak mungkin, pasti burung balam tidak mendengar. Apa akal? Semut merah mencoba mencari akal.
Sementara itu, si pemburu sudah siap menarik picu. Bidikannya tepat ke arah burung balam. Peluru pasti tidak akan meleset lagi.
Tiba-tiba sang semut menjatuhkan diri. Tepat jatuh di hidung sang pemburu dan cepat-cepat ia merayap ke mata yang tengah membidik. Digigitnya kelopak mata pemburu itu. Sang pemburu menjerit kesakitan, “aduh ….” Tepat saat menarik picu senapannya. Namun, sasarannya jadi berubah. Peluru melayang disisi burung balam, menerjang rimbunan daun.
Burung balam terkejut, secara naluriah ia terbang. Tetapi sempat ia melihat seorang pemburu yang sedang menggosok-gosok matanya. Senapannya ia lemparkan ketanah. Wajahnya tampak kesakitan. Burung balam terus terbang menjauh, ia tidak tahu kalau ia telah diselamatkan oleh semut merah sahabatnya.
Semut merah cepat melompat ke tanah dan merayap lagi ke atas dahan. Hatinya merasa sangat senang telah bisa menyelamatkan nyawa sahabatnya.
“Aku telah membalas budi baik sahabatku.” Keluhnya dalam hati, “Tetapi ia tidak tahu bahwa aku telah menyelamatkan nyawanya dari tangan si pemburu.”
Semut merah merenung sesaat. Namun, tiba-tiba ia tersenyum puas. Ia sadar bahwa berbuat jasa terhadap siapapun tak perlu ditonjol-tonjolkan. Ia cepat merayap ke sarangnya, berkumpul dengan teman-temannya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Share it

- Copyright © Subject's Warn - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -